
Landak_Kalbar, impresinews.com,- Sejumlah ternak Babi di daerah kecamatan Banyuke Hulu dan kecamatan Menyuke Kabupaten Landak, yang di lepas liarkan maupun yang terkadang mengalami kematian hampir 100%. Kematian itupun dipastikan karena wabah ASF (African Swine Fever).
Akibat dari kondisi tersebut, penduduk yang memelihara ternak Babi tradisional mengalami kerugian besar, dan hanya bisa pasrah dengan apa yang telah di alami.
” Mati semua bang, yang dilepas dan di kandang juga kena Sampar(ASF). Mau tidak mau kita pasrah bang, karena tidak tahu cara menghadapi Sampar ini,” ungkap Rudis salah satu warga Desa Untang, Banyuke Hulu ditemui. Senin (21/2).
Hal yang sama juga di beberkan oleh Leo, warga dusun Timbang Bandong, desa Ongkol Padang, kecamatan Menyuke. Prihal kematian misterius sejumlah babi yang di ternak kandang maupun di lepas liarkan, bahkan bau menyengat dan bangkai babi terlihat di beberapa tempat.
” Iya, di tempat kami juga habis mati ternak babi, sekarang di dusun kami satu ekor pun tidak ada lagi dan saat ini mulai menjalar di dusun lainnya,” ucap Leo
Diwaktu yang sama, Kepala desa Untang Edias mengatakan, cukup prihatin melihat kondisi seperti ini, ia menjelaskan Sampar/ASF ini tidak hanya menyerang satu dusun saja, tapi semua di Desa Untang atau Banyuke Hulu khususnya, bahkan Kabupaten landak pada umumnya mengalami hal yang sama.
“Tentunya kita merasa prihatin atas wabah ini, karena dampaknya masyarakat lokal mengalami kerugian. memang untuk saat ini laporan secara resmi dari masing-masing kepala dusun belum ada secara tertulis seperti ternak si A/B/C berapa yang mengalami kematian,” ujar Kepala Desa Untang, Edias.
Selanjutnya Edias memaparkan, jika dihitung berdasarkan Kepala Keluarga (KK), jumlah data Desa Untang ada 583 Kepala Keluarga (KK). Menurutnya jika rata-rata setiap kepala keluarga memelihara ternak babi ada 2 ekor saja, maka bisa di perkirakan berapa banyak ternak Babi yang mati.
“Bayangkan ada sekitar 1.166 ekor (583/KK) yang mati akibat wabah ini, kita asumsikan lah 20 kg/per ekornya. Dengan hitungan rata rata harga jual 35.000/Kg, berarti Masyarakat desa Untang sudah mengalami kerugian sekitar 40 jutaan,” kata Edias
Dirinya berharap, pemerintah Daerah melalu Dinas Peternakan memberikan solusi, terkait wabah ASF yang telah merugikan para peternak lokal tersebut.
“Selain dampak ekonomi dan kesehatan, aspek sosial budaya juga terdampak akibat wabah ini, karena diawal tahun ini ritual adat Dayak seperti “Tahun Baru Padi” dan “Naik Dango” sulit di laksanakan, sebab hewan paraga Adat utama (Babi) mengalami kematian,” pungkasnya.
Kemudian saat dikonfirmasi, Kepala Dinas Pertanian, Perikanan, Ketahanan Pangan dan Peternakan Kabupaten Landak Sahbirin menjelaskan, Virus ASF adalah penyakit menular pada babi yang disebabkan oleh virus. Virus tersebut juga dapat menginfeksi anggota famili Suidae baik pada babi yang di ternakkan maupun babi liar.
Menurutnya, ada beberapa faktor yg menyebabkan masuk nya ASF di Kab. Landak diantaranya melalui pemasukan daging babi dan produk babi lainnya, orang yang terkontaminasi virus ASF, kontak dengan babi di lingkungannya.
” Penyakit ASF ini, dapat menyebar dgn cepat dengan tingkat kematian yg tinggi. Perlu kita ketahui virus ini tidak berbahaya bagi manusia dan bukan masalah kesehatan masyarakat. Virus ini juga bukan penyakit yang menular dari hewan ke manusia (zoonosis), jadi produk babi dipastikan tetap aman utk konsumsi,” kata Kadis Pertanian.
Virus ASF ini belum ditemukan vaksin yang mampu mencegahnya, sehingga Kepala Dinas Pertanian/Peternakan Kabupaten Landak menyarankan cara pencegahan yang bisa dilakukan.
” Pencegahan bisa melalui lalu lintas media pembawa virus ASF dan menerapkan biosekuriti yang baik,” tutup Sahbirin.
Pencegahan Penyakit African Swine Fever (ASF)
Dikutip dari lama Kementerian Pertanian Indonesia, African Swine Fever (ASF) adalah penyakit pada babi yang sangat menular dan dapat menyebabkan kematian pada babi hingga 100 % sehingga mengakibatkan kerugian ekonomi yang sangat besar. Virus ASF sangat tahan hidup di lingkungan serta relatif lebih tahan terhadap disinfektan.
Kemudian wabah ASF ini tidak berbahaya bagi manusia dan bukan masalah kesehatan masyarakat. ASF bukan penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia (zoonosis), jadi produk babi dipastikan tetap aman untuk konsumsi.
Tanda-tanda Klinis ASF seperti, Kemerahan di bagian perut, dada dan scrotum, Diare berdarah, Berkumpul bersama dan kemerahan pada telinga, Demam (41 derajat Celsius), Konjungtivitis, anoreksia, ataksia, paresis, kejang, kadang-kadang muntah, diare atau sembelit, Pendarahan Kulit Sianosis, Babi menjadi tertekan, telentang, kesulitan bernapas, tidak mau makan.
Wabah ASF ini juga dapat menyebar melalui kontak langsung, Serangga, Pakaian, Peralatan peternakan, Kendaraan, Pakan yang terkontaminasi. Untuk babi yang terkena penyakit ASF, isolasi hewan sakit dan peralatan serta dilakukan pengosongan kandang selama 2 bulan.
Untuk babi yang mati karena penyakit ASF, dimasukkan ke dalam kantong dan harus segera dikubur oleh petugas untuk mencegah penularan yang lebih luas. Tidak menjual babi/ karkas yang terkena penyakit ASF serta tidak mengkonsumsinya. Karena hingga saat ini, belum ditemukan vaksin untuk pencegahan penyakit ASF.
Berdasarkan kajian analisa risiko, ada beberapa faktor yang menyebabkan masuknya ASF ke Indonesia diantaranya melalui, pemasukan daging babi dan produk babi lainnya, sisa-sisa katering transportasi intersional baik dari laut maupun udara, orang yang terkontaminasi virus ASF, kontak dengan babi di lingkungannya.
Langkah strategis utama dalam mencegah terjadi ASF adalah melalui penerapan biosekuriti dan manajemen peternakan babi yang baik serta pengawasan yang ketat dan intensif untuk daerah yang berisiko tinggi
Upaya deteksi cepat melalui kapasitasi petugas dan penyediaan reagen untuk mendiagnosa ASF ini telah dilakukan oleh laboratorium Kementerian Pertanian yakni Balai Veteriner dan Balai Besar Veteriner di seluruh Indonesia yang mampu melakukan uji dengan standar internasional
Sedang dikaji untuk kebijakan ketat terhadap importasi babi hidup dan produk-produk daging babi, terutama dari negara-negara yang tertular ASF
Pemerintah menghimbau agar provinsi lain dengan populasi babi yang tinggi, seperti NTT, Sulut, Kalbar, Sulsel, Bali, Jateng, Sulteng, Kepri, dan Papua agar waspada dan siap siaga terhadap kemungkinan terjadinya penyakit ASF.
Hal penting yang perlu dilakukan antara lain sosialiasi kepada peternak dan advokasi kepada pimpinan daerah terkait ancaman ASF.
(Tino)









