Edukasi

Penyebab Sering Punya Pikiran untuk Menyakiti Orang Lain

- Advertisement -

Ada segelintir orang yang merasa senang ketika berhasil menyakiti atau melihat orang lain menderita.

Orang-orang tersebut cenderung menikmati adegan film yang berdarah-darah, dan menganggap perkelahian atau pertikaian sebagai hal menarik.

Melansir BBC, seseorang yang punya kecenderungan berperilaku demikian dijuluki dengan sebutan sadist.

Lantas, apakah perilaku sering menyakiti orang lain berkaitan dengan keadaan psikologis? Yuk, cari tahu fakta medisnya

Sering Menyakiti Orang Lain, Tanda Gangguan Psikologis?

Dijelaskan oleh Ikhsan Bella Persada, M.Psi., Psikolog, keinginan untuk menyakiti orang lain belum tentu berkaitan dengan gangguan psikologis.

“Bisa jadi, keinginan untuk melakukan agresi adalah karena perasaan yang dipendamnya,” kata Ikhsan.

Perasaan marah atau kecewa yang dipendam diibaratkan seperti bom waktu. Saat ‘meledak’, orang tersebut akan melakukan perilaku yang umumnya berujung negatif.

“Setiap orang memiliki agresi atau tindakan untuk menyakiti orang lain. Tetapi, kadar agresi yang dipunya dan seberapa besar kontrolnya itu tergantung pada masing masing individu,” ucap Ikhsan.

Menurut Ikhsan, orang yang bisa kontrol diri juga memiliki keinginan untuk menyakiti orang. Akan tetapi, keinginan tersebut bisa dikendalikan sehingga tak dipraktikkan dalam perilaku sehari-hari.

“Karena, bisa jadi, dia masih punya superego atau aturan-aturan yang dipegang karena dianggap melanggar norma,” ucap Ikhsan.

Lebih lanjut, Ikhsan pun menyebut bahwa pikiran untuk menyakiti orang lain yang sering terbesit hingga ditunjukkan dalam bentuk perilaku dapat mengindikasikan adanya gangguan psikologis.

“Ada atau tidaknya gangguan psikologis hanya dapat diketahui dengan memeriksakan diri kepada profesional, seperti psikolog,” tutur Ikhsan.

Penyebab Seseorang dengan Mudah Menyakiti Orang Lain

Melansir Psychology Today, berikut ini beberapa hal yang dihubungkan dengan kecenderungan seseorang untuk menyakiti orang lain:

Memiliki Empati yang Rendah

Beberapa orang memiliki empati yang rendah terhadap orang lain. Mereka mengalami kesulitan untuk mengerti perspektif dari sudut pandang orang lain.

Karenanya, mereka sering berperilaku tanpa memikirkan perasaan orang lain terlebih dahulu.

Dengan kata lain, orang yang sering menyakiti Anda mungkin tidak menyadari dengan tingkah lakunya. Sebab, hal yang Anda anggap sebagai perbuatan menyakiti belum tentu dianggap demikian oleh orang tersebut.

Tidak Menyukai Dirinya Sendiri

Ikhsan menjelaskan, ketika orang tidak menyukai dirinya sendiri, mereka cenderung memproyeksikan perasaan tersebut kepada orang lain. Hal ini utamanya jika dipengaruhi oleh perilaku kasar yang mereka alami di masa lalu.

“Meski tidak semua, tetapi orang-orang yang memiliki trauma disakiti oleh orang lain cenderung memiliki dorongan untuk menyakiti sekitarnya,” jelas Ikhsan.

“Hal itu dilakukan agar orang-orang di sekitarnya bisa merasakan kesakitan seperti pernah ia alami sebelumnya,” sambungnya.

Tingkat Percaya Diri yang Rendah

Seseorang dengan rasa percaya diri yang rendah akan mencoba menutupi hal tersebut dengan menjatuhkan orang lain.

Sebab, ia merasa bahwa membuat orang lain terluka adalah cara terbaik untuk membuatnya kembali percaya diri.

Perasaan Senang Melihat Orang Lain Terluka

Tidak sedikit individu yang sengaja menyakiti orang di sekitarnya untuk mendapatkan perasaan senang.

Perilaku ini bisa menjadi bentuk dari ketidaksukaan orang tersebut terhadap dirinya, atau karena bentuk trauma yang dimiliki.

Mereka Melihat Anda Sebagai Orang yang Lemah

Ketidakmampuan mengontrol agresi ditambah adanya peluang dapat membuat orang lain dengan mudah menyakiti diri Anda.

Dengan kata lain, orang-orang yang demikian memandang Anda sebagai sosok yang lemah sehingga dapat mudah disakiti.

Itulah tadi penjelasan mengapa sebuah individu bisa memiliki kecenderungan untuk menyakiti orang lain.

Jika Anda sering merasa menyesal karena telah menyakiti orang terdekat, cobalah cari tahu apa yang menjadi dasar dari hal tersebut.

“Bila sudah tahu penyebabnya, bisa mencoba menghindari sumber timbulnya pikiran tersebut. Jika tidak bisa, Anda perlu mencari kegiatan yang dapat menyalurkan agresi, misalnya dengan berolahraga atau mencari hobi baru,” saran Ikhsan.

TINGGALKAN KOMENTAR

- Advertisement -