Edukasi

Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Perubahan Sosial yang Terjadi pada Sekolah Dasar di Kota Serang

- Advertisement -

KOTA SERANG,-Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah pusat menjadi langkah nyata dalam upaya mengurangi angka stunting dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) di Indonesia melalui pemenuhan gizi yang optimal sejak dini.

Program ini hadir agar seluruh anak Indonesia dapat menyerap pelajaran di sekolah secara maksimal, mengingat salah satu faktor yang sering menghambat proses belajar adalah masalah gizi buruk. Selain itu, program ini juga menjadi bagian dari komitmen pemerintah dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045 melalui generasi muda yang sehat, cerdas, dan berkualitas.

Program ini diterapkan untuk siswa sekolah dasar di seluruh Indonesia, termasuk di SDN 2 Banjarsari, Kota Serang. Berdasarkan pengamatan dan wawancara saya dengan salah satu siswi, Fattimah Az-Zahra, pada 18 Oktober 2025, ia mengaku senang dengan adanya program ini.

“Saya suka banget kalau menunya burger atau spaghetti, terus juga dapat buah-buahan seperti semangka, melon, bahkan durian,” ujar Fattimah. Namun, ia juga berharap agar menu lebih bervariasi. “Sayurnya kadang nggak enak atau basi, jadi nggak dimakan,” tambahnya.

Sementara itu, seorang pedagang di sekitar sekolah mengaku pendapatannya menurun sejak adanya MBG. “Anak-anak sekarang udah kenyang duluan. Dulu bisa dapat Rp120.000 sehari, sekarang paling Rp90.000 atau kurang,” ujarnya.

Meski demikian, pedagang tersebut tetap menganggap program ini bermanfaat karena membantu siswa yang kesulitan mendapatkan asupan makanan bergizi di rumah.

Program MBG ini berjalan di berbagai sekolah dasar, termasuk di wilayah Kota Serang, Banten, yang menjadi salah satu daerah pelaksana tahap awal. Pemerintah menilai rendahnya kualitas gizi menjadi salah satu faktor utama penghambat prestasi pendidikan.

Dengan adanya MBG, diharapkan anak-anak dapat menyerap pelajaran lebih baik dan tumbuh menjadi generasi produktif. Namun, kebijakan ini juga membawa perubahan sosial, mulai dari perilaku siswa yang berubah hingga dampak ekonomi bagi pedagang kecil di sekitar sekolah.

Perubahan sosial yang muncul dapat dijelaskan melalui teori perubahan sosial dari Selo Soemardjan, seorang sosiolog Indonesia, yang menyatakan bahwa perubahan sosial terjadi ketika ada kebijakan atau inovasi baru yang mengubah cara masyarakat berinteraksi.

Dalam konteks ini, MBG mengubah pola makan siswa, hubungan ekonomi yang terjadi di sekolah, serta meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya gizi seimbang.

Sebagai mahasiswa Program Studi Administrasi Negara, Universitas Pamulang Kota Serang, Ibnu Maulana Jawahirul Akbar, melihat bahwa penerapan pemikiran Selo Soemardjan dapat menjadi kunci dalam memperkuat efektivitas program MBG.

Teori beliau menekankan pentingnya kesadaran sosial dan partisipasi masyarakat dalam menghadapi perubahan. Artinya, pemerintah tidak perlu menghentikan program ini, melainkan memperkuat kolaborasi dan komunikasi antara sekolah, masyarakat, dan pedagang agar program berjalan lebih adaptif dan berkelanjutan.

Pedagang di sekitar sekolah perlu beradaptasi dengan perubahan ini melalui inovasi terhadap dagangannya, seperti menyediakan minuman sehat, camilan ringan, atau mainan edukatif yang tetap diminati siswa setelah jam makan MBG. Dengan begitu, mereka tetap memiliki peluang ekonomi tanpa harus bersinggungan dengan sistem penyedia makanan resmi yang sudah diatur oleh pemerintah.

Selain itu, pihak sekolah bersama guru dan orang tua juga dapat berperan aktif dalam memberikan edukasi gizi seimbang kepada siswa. Edukasi ini penting agar siswa tidak hanya menikmati makanan gratis, tetapi juga memahami manfaatnya bagi kesehatan untuk menunjang prestasi belajar mereka. Dengan pemahaman yang baik, diharapkan tidak ada lagi makanan yang terbuang percuma dan program ini dapat berjalan lebih efektif.

Evaluasi menu MBG perlu dilakukan secara berkala untuk memastikan bahwa menu tersebut tidak hanya mengenyangkan, tetapi juga mengenalkan anak-anak pada makanan sehat dan bergizi. Menu seperti burger atau spaghetti sebaiknya disajikan sesekali saja, dan lebih sering diganti dengan makanan lokal seperti ikan, tempe, sayur bening, dan buah segar yang lebih bernilai gizi.

Dengan mengamalkan teori sosial Selo Soemardjan, kita belajar bahwa setiap kebijakan sosial akan menghasilkan perubahan. Kemampuan masyarakat untuk beradaptasi dan bekerja sama dalam mengelola perubahan ini adalah kunci keberhasilan kebijakan.

Jika program MBG dijalankan dengan semangat gotong royong dan kesadaran sosial, maka program ini bukan hanya tentang memberikan makan gratis, melainkan tentang membangun lingkungan sosial yang sehat, cerdas, dan berkualitas untuk masa depan anak-anak Indonesia.

Penulis :

Oleh: Ibnu Maulana Jawahirul Akbar

 Dosen Pengampu: Angga Rosidin, S.I.P., M.A.P.

Kaprodi: Zakaria Habib Al-Ra’zie, S.I.P., M.Sos.

Program Studi Administrasi Negara, Universitas Pamulang – Serang

TINGGALKAN KOMENTAR

- Advertisement -

Baca Juga