Nasional

Pemkot Tangerang Tekankan Pancasila Jadi Kompas Moral Pengurus Parpol di Era Digital

- Advertisement -

KOTA TANGERANG,- Wali Kota Tangerang, H. Sachrudin, menegaskan pentingnya transformasi partai politik menjadi lembaga pendidikan politik yang mampu melahirkan kader cerdas, adaptif, dan berintegritas.

Dalam sambutannya, Sachrudin, menyoroti perubahan besar yang terjadi akibat dinamika geopolitik global dan perkembangan teknologi digital yang semakin cepat dan masif.

“Dinamika geopolitik global kini tidak lagi bersifat jauh. Dampaknya bisa langsung dirasakan hingga ke tingkat ekonomi masyarakat. Di sisi lain, teknologi digital mampu membentuk opini publik hanya dalam hitungan detik,” ujarnya Selasa (28/04)

Menurutnya, kondisi tersebut menuntut partai politik untuk tidak lagi bertumpu pada pola lama. Parpol harus mampu beradaptasi dan menjalankan fungsi yang lebih substansial dalam kehidupan demokrasi.

“Partai politik tidak cukup hanya menjadi mesin pemenangan pemilu. Parpol harus naik kelas menjadi lembaga pendidikan politik yang modern, adaptif, dan berintegritas,” tegasnya.

Ia menambahkan, pengelolaan partai juga harus mengikuti perkembangan zaman melalui tata kelola yang transparan, akuntabel, dan berbasis data, tanpa mengesampingkan nilai-nilai kebangsaan sebagai fondasi utama.

“Penguatan kelembagaan harus diiringi dengan lahirnya kader yang melek teknologi, memiliki nalar kritis, serta menjunjung tinggi integritas. Ini adalah kunci untuk menjaga kualitas demokrasi ke depan,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Kesbangpol Kota Tangerang Teguh Supriyanto, juga menyoroti derasnya arus informasi di era digital yang menghadirkan peluang sekaligus tantangan. Ia mengingatkan bahwa tanpa pemahaman nilai kebangsaan yang kuat, ruang digital dapat menjadi sumber konflik sosial.

“Disinformasi, ujaran kebencian, dan polarisasi menjadi tantangan nyata. Karena itu, partai politik harus mampu mengambil peran sebagai penjaga etika di ruang digital,” ungkapnya.

Ia menegaskan, media sosial seharusnya dimanfaatkan sebagai ruang edukasi politik yang sehat dan mencerdaskan, bukan sebaliknya.

“Media sosial harus menjadi ruang yang mencerahkan dan memperkuat persatuan, bukan memperkeruh suasana apalagi memecah belah,” pungkasnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

- Advertisement -

Baca Juga