Populer

Ternak Lembu Terjangkit Virus, Warga Beri Pengobatan Ala Kadarnya

- Advertisement -

LABUHANBATU, impresinews.com,- Penyakit kulit pada ternak lembu yang juga dikenal dengan penyakit Lumpy Skin Disease (LSD) membuat risau peternak di Labuhanbatu.

Lembu yang terpapar LSD terlihat kehilangan nafsu makan dan lemas.

Penyakit juga membuat lembu lebih memilih menyendiri dari kawanannya.

Bahkan menurut penuturan salah seorang warga, penyakit kulit benjolan bisa menyebabkan ternak mati, jika menjangkit anak lembu yang masih berumur di bawah satu tahun.

Sebagian warga kini hanya bisa memberikan pengobatan secara mandiri tanpa mendapat pendampingan oleh ahli yang membidangi tentang ternak.

Pengobatan dilakukan dengan memberikan suntikan jenis vitamin atau pemberian antibiotik.

Cara lainnya, dengan menyemprotkan cairan jenis racun hama tanaman (decis) ke tubuh hewan pemamah biak tersebut, khususnya pada bagian kulit ternak yang berlubang.

Pada beberapa titik benjolan akan memecah dan menyebabkan luka berlubang pada ternak.

Sayangnya, upaya dilakukan warga tidak dibekali pengetahuan yang cukup tentang ternak itu sendiri.

Amatan awak media, penyuntikan dilakukan sering gagal karena minimnya pengetahuan cara melakukan penyuntikan yang benar.

Warga juga menggunakan alat suntik yang sama kepada lembu lainnya.

Ketika ditanya dari mana mendapat pemahaman tentang jenis antibiotik dapat menyembuhkan ternak, warga mengaku informasi diperoleh dari rekan peternak lainnya.

Amatan awak media terkait upaya dilakukan untuk menyelamatkan ternak mereka seakan menjadi jurus terakhir ketika minimnya perhatian dari pihak Pemerintah Kabupaten Labuhanbatu atas kerisauan warganya.

Sebagian warga mengatakan pengobatan dilakukan secara mandiri lantaran tak memiliki biaya. Ada pula yang sengaja untuk menekan biaya perawatan.

Warga Kecamatan Bilah Barat dan Bilah Hulu mengaku pernah mendapat undangan menghadiri sosialisasi pencegahan penyakit LDR dan PMK di Kantor Kecamatan.

Namun lantaran terbentur waktu bekerja, keduanya akhirnya tidak dapat menghadiri kegiatan sosialisasi tersebut.

“Tiap kecamatan sudah pernah ada undangan sosialisasi di Kantor Camat, tapi aku enggak bisa datang pagi itu karena kerja,” tutur warga Bilah Barat, Rabu (29/6).

Ia selanjutnya menuturkan angin segar datang dari pemerintah Desa melalui Kepala Dusun telah melakukan pendataan jumlah ternak yang dimiliki warga.

Namun secara pasti dirinya tak mengetahui tujuan dilakukan pendataan.

“Entah soal dikasih vaksin atau sosialisasi kurang tahu, soalnya tadi dari telepon,” ujarnya.

Kekhawatiran beberapa warga Bilah Hulu, upaya pengobatan dilakukan tanpa pemahaman yang baik hanya membuat penularan wabah semakin meluas.

“Kita kan gak tahu pasti dosisnya berapa untuk satu lembu. Antibiotik aman gak untuk lembu,” keluh warga.

Informasi sementara diperoleh di dua Kecamatan yakni Bilah Hulu dan Bilah Barat, Labuhanbatu ratusan ternak telah terpapar LDR.

Dikutip dari berbagai sumber, penularan penyakit benjolan (LDR) terjadi melalui beberapa jalur, yaitu:

1. Ditularkan oleh serangga penghisap darah, seperti nyamuk, caplak dan lalat.

2. Kontak langsung antara hewan sakit dan hewan yang sehat

3. Penularan dari induk yang sakit kepada anak di dalam kandungan dan melalui air susu

4. Melalui jarum suntik yang tidak steril dan digunakan berulang.

5. Pakan dan air minum yang tercemar ludah hewan yang terinfeksi.

Penyakit Lumpy skin diseses (LSD) adalah penyakit pada hewan yang disebabkan oleh virus pox. (Aiman)

TINGGALKAN KOMENTAR

- Advertisement -

Baca Juga