Nasional

Hari Remaja Internasional, Pemuda Indonesia Serukan manfaat Aplikasi Pantau KTR

- Advertisement -

MEDAN, impresinews.com,- Kesehatan adalah hal yang tidak bisa ditawar-tawar lagi, terlebih di tengah kondisi pandemi Covid-19 di seluruh dunia saat ini.

Berbicara tentang kesehatan, pembahasan yang tak kalah pentingnya adalah tentang etika merokok yang harus dikendalikan agar tidak merusak kesehatan. Baik bagi perokok itu sendiri maupun perokok pasif yang ada di sekitarnya.

Bertepatan hari Remaja Internasional pada Kamis 12 Agustus 2021, Yayasan Pusaka Indonesia (YPI) menggelar webinar bersama pemuda Indonesia dari berbagai daerah.

Dua remaja berprestasi menjadi nara sumber dalam diskusi bertajuk “Remaja Indonesia Memantau Dengan Hati” tersebut.

Ia adalah Muhammad Iqbal Darmawan, Grand Finalis The New L-Man of Year 2020 dan Duta Muda Asean untuk Indonesia. Serta Anggi Maisarah Finalis wanita Muslimah, yang kini aktif menggalang remaja menjadi Sahabat Pantau KTR (Kawasan Tanpa Rokok) dan webinar dipandu oleh Nina Samidi dari Komnas Pengendalian Tembakau.

Sekitar 90 peserta dari berbagai daerah, di antaranya Jakarta, Medan, Lombok, Gorontalo, Bali, Sawahlunto, Solo, Palembang mengikuti diskusi daring tersebut.

Banyak kisah menarik hadir dalam diskusi ini. Salah satunya dari Iqbal Dermawan.

Ia mengaku punya pengalaman tidak mengenakan ketika berada di sebuah kafe. Asap rokok dari pengunjung lain mengepul dan menerjang wajahnya.

Dalam webinar, Iqbal pun membagikan trik untuk mengajak pengunjung kafe agar menghargai orang yang tidak ingin terkena paparan asap rokok.

“Saya biasanya membawa permen dan snack, dan saya coba berkomunikasi dengan si perokok dan menggantikannya dengan permen dan snack,” ujar pria yang masih duduk di bangku kuliah ini.

Di kesempatannya, Iqbal menyampaikan rasa syukur atas terciptanya aplikasi pantau KTR ini. Karena dengan begitu masyarakat yang tidak ingin terpapar asap rokok bisa melakukan aksinya.

“Gerakan ini memang harus dilakukan bersama sama dan secara masif, ini untuk terwujudnya Indonesia yang sehat,” ujar Iqbal seraya mengajak pemuda untuk melakukan gerakan bersama.

Anggi Maysarah yang saat ini gencar mengajak anak muda untuk membuat gerakan pengendalian dampak rokok menjelaskan, bahwa aplikasi pantau KTR ini tujuannya untuk melaporkan tempat kawasan tanpa rokok yang ternyata justru masih dilanggar.

“Selain pelanggaran aplikasi pantau KTR juga bisa memberikan apresiasi bagi wilayah yang sudah menerapkan KTR,” ucap Anggi.

Anggi berharap Aplikasi ini bisa dimanfaatkan anak-anak muda yang selama ini ‘silent’, akan tetapi sebenarnya gerah dengan orang yang tidak menerapkan KTR.

“Ini saatnya anak-anak muda ikut bergerak,” ujarnya

Aplikasi ini disambut Sarah, peserta asal Jakarta. Ia mengaku sejak tahun 2017  bersama pemuda penggerak lainnya telah melakukan aksi untuk menjadikan kampus mereka menerapkan KTR.

“Mudah-mudahan melalui aplikasi ini, penerapan KTR di kampus segera terwujud,” ujarnya.

Di akhir sesi acara, forum ini membuat pernyataan bersama.

“Kami Remaja Indonesia, dengan ini menyatakan siap berkontribusi dalam memajukan kesehatan melalui implementasi Kawasan Tanpa Rokok dengan aplikasi Pantau KTR,” ujar para peserta serempak. (Aiman)

TINGGALKAN KOMENTAR

- Advertisement -

Baca Juga