Minyak Goreng Langka dan Mahal, Penjual Gorengan di Bengkayang Minta Pemda Adakan Pasar Murah

Bengkayang_Kalbar,impresinews.com,- Kelangkaan minyak goreng memang menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat luas, terutama emak-emak dan para pedangan yang setiap harinya menggunakan minyak goreng.
Diketahui tingginya harga minyak goreng tersebut, tidak hanya dipicu oleh langkanya pasokan minyak kelapa sawit atau naiknya harga Crude Palm Oil (CPO) saat ini.
Tetapi kelangkaan itu juga disebabkan oleh hal-hal eksternal yang hubungannya tidak terlalu signifikan, baik dengan proses produksi maupun pemasaran minyak secara global.
Di Kabupaten Bengkayang misalnya, berdasarkan penelusuran beberapa hari yang lalu, sejumlah toko terlihat masih banyak tidak memiliki stok minyak goreng dari berbagai merek yang sering di jual di pasaran.
Bahkan di dua toko ritel raksasa Indomaret dan Alfamart pun terjadi demikian. Menurut keterangan salah satu karyawan Indomaret yang tidak mau di sebutkan namanya, kelangkaan minyak goreng di Indomaret sudah hampir tiga pekan ini, karena pihaknya menunggu pengiriman dari pusat sehingga stok masih belum tersedia.
“Iya pak!, stok minyak goreng sudah hampir tiga minggu ini belum ada, kita tung pengiriman dari gudang pusat. Biasanya kalau stok sudah ada jelas langsung kami jual pak. Kami takut juga kalau sampai tidak kami jual, bisa terindikasi sebagai penampung,”tutur karyawan Indomaret itu. Selasa (8/3/2022).
Kelangkaan minyak goreng juga dirasakan di toko menengah di pinggir jalan, sebut saja pak Apri, dirinya merasakan sulitnya serta kosongnya stok minyak goreng berbagai merek. Yang sampai saat ini seperti drama “ada dan tiada”.
“Tadi siang ada kiriman, namun hanya ada stok 21 liter aja pak. Karena stok sedikit ya langsung terjual habis, dan Ini bukti data transaksi terakhir kami untuk minyak goreng. Ini akibat suplai dari gudang tidak ada,” ungkapnya.
Akibat dari kelangkaan tersebut, harga minyak goreng pun mahal sehingga harga jualnya masih di atas harga Het yang ditetapkan oleh pemerintah. Itu lah yang menjadi momok bagi sejumlah pedagang kecil, yang menggunakan minyak goreng di Kabupaten Bengkayang.
Berdasarkan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 6 Tahun 2022, harga eceran tertinggi (HET) minyak goreng sawit ditetapkan Rp 11.500 per liter untuk minyak goreng curah, Rp 13.500 per liter untuk minyak goreng kemasan sederhana, serta Rp 14.000 per liter untuk minyak goreng kemasan premium.
Salmah salah seorang penjual gorengan di daerah Sebobet kabupaten Bengkayang saat ditemui dihari yang sama (8/3) mengaku, semenjak minyak goreng tersebut langka dan mahal,penghasilannya agak menurun. Karena tidak berani menaikkan harga gorengannya.
“Menurun pak, dulu misalkan labanya 300-500 ribu/hari, ini udah di bawah itu pak. Karena kita beli minyak goreng aja udah 22.000-24.000 ribu/liter, yang biasa 13.000-15.000 ribu, belum lagi kita belanja bahan gorengannya pak, jadi begitulah !.,” kata Salmah dengan raut muka yang lesu.
Salmah juga berharap kepada pemerintah daerah Kabupaten Bengkayang, khusunya Diskoperindag untuk mencari solusi terkait mahalanya minyak goreng di pasaran, apalagi menurutnya rata-rata penjual gorengan tidak berani untuk menaikan harga gorengannya.
” Nanti kalau naik, takut pelanggan terkejut dan tidak jadi beli, saya hanya meminta Pemda Bengkayang lakukan sesuatu seperti mengadakan kerjasama dengan pihak lain untuk jual minyak goreng sesuai harga yang ditetapkan pemerintah,” ujarnya.
(Tino)









