Politik

Jelang Pemilu 2024, Politik Indentitas Sudah Mulai Bermunculan

Penulis : Nani Yunengsih Editor : Charles

- Advertisement -

KOTA SERANG,- Politik identitas kerap sekali digunakan sebagai ajang mencari massa oleh para pemangku kepentingan di berbagai wilayah.

Amas Tajudin sekertaris MUI Kota Serang mengatakan bahwa eskalasi politik identitas sangat tinggi dan hingga saat ini sudah bermunculan.

“Politik identitas seperti yang kita maklumi itu akan mengulang pada peristiwa 2019. Dan itu bibit utamanya per hari ini sudah mulai bermunculan dan itu eskalasinya sudah tinggi”Kata Amas Tajudin usai acara kunjungan kerja Gubernur Lemhanas RI, Jumat (10/03)

Hal tersebut juga jelas Amas Tahudin bahwa akan mengganggu pada moment ramadhan 2023 dan berujung pada pilpres 2024.

“Nah bagaimana 2024 tahapan pemilu mulai dari sekarang, politik identitas akan tinggi eskalasinya dan semakin kenceng, Mengulang dari 2019” Kata Amas

Terutama juga juga yang sering dirinya prediksi dari deteksi dini, politik identitas tersebut merupakan tokoh-tokoh dari kalangan yang sebenarnya tidak pernah berubah.

“Orang-nya itu itu saja” Kata Amas

Sehingga, Lanjut Amas bahwa dikatakan tidak maslah jika terintifikasi dari para pemangku politik yang ingin menang pemilu secara demokratis.

“Tapi kalau untuk merebut kekuasaan agar mereka bisa mengganti negara pencasila menjadi ideologi lain, nah ini persoalannya”

Hal itu akan dilihat dari eskalasi politik identitas yang semakin hari semakin berkembang.

Lebih lanjut Amas juga mengatakan bahwa hingga saat ini pemangku politik yang kekeh terhadap pilihannya.

“Mereka menganggap bahwa pokonya presiden harius ini, padahal partai politik belum memenuhi persyaratan sebagai calon” katanya

“Nah ini sudah nampak yang tidak setuju dengan ini, orang islam dianggap kafir, atau kalau anda tidak setuju dengan ini anda di cap musyrik” lanjutnya

Paling tidak, lanjut Amas bahwa orang mengatakan anti islam. Itu yang paling populer.

Menurut Anas, hal tersebut dangat berbahaya karena dapat menjadi pemicu dalam membenturkan keberagamaan yang sudah rukun dan damai.

“Karena ujungnya disini bukan lagi bukan melihat pada konteks kedamaian, melainkan bagaimana mengganti ideologi negara. Ini kamuflase nya” ujarnya mengakhiri (***)

TINGGALKAN KOMENTAR

- Advertisement -

Baca Juga