Kurang Sosialisasi, Target IKD Di Kota Serang Belum Tercapai

KOTA SERANG,- Target Identitas Kependudukan Digital (IKD) yang dicanangkan oleh Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) belum tercapai. Hal ini lantaran adanya beberapa kendala di tengah masyarakat.
Dimana diketahui, berdasarkan aturan Kemendagri, target Identitas Kependudukan Digital (IKD) tahun 2023 sebesar 25 persen dari jumlah Wajib KTP (WKTP).
Namun hingga saat ini, hanya tercatat 11.712 warga Kota Serang yang sudah melakukan aktivasi Identitas Kependudukan Digital (IKD).
Choerudin, Kepala Bidang Pengelolaan informasi Administrasi Kependudukan (PIAK) Disdukcapil Kota Serang mengatakan, capaian IKD di kota serang masih dibawah 3 persen.
“Capaian IKD kita masih dibawah tiga persen, artinya masih jauh untuk mencapai target yang dicanangkan oleh pusat,” kata Choerudin saat dikonfirmasi melalui telepon, Senin (30/10).
Choerudin mengatakan, dari jumlah total Wajib KTP sebanyak 524.000 di akhir tahun 2022, hanya sekitar 11.428 warga Kota Serang sudah melakukan aktivasi Identitas Kependudukan Digital (IKD).
“Dari total WKTP itu sekitar 524.000 orang di akhir tahun 2022, sampai saat ini baru sekitar 11.712 orang yang sudah melakukan aktivasi IKD,” kata Choerudin.
Hal itu, jelas Choerudin lantaran masyarakat masih belum mengerti terhadap perkembangan kemajuan di era digitalisasi. Sehingga hal itu menjadi penghambat dalam mencapai target IKD.
“Untuk IKD, hambatannya hanya orang ini masih awam, kurang sosialisasi, mereka masih senang megang KTP fisik dibandingkan di digital,” katanya.
Padahal, kata dia, KTP digital merupakan program yang dicanangakan oleh Kemendagri RI untuk memudahkan masyarakat terkait administrasi.
“Padahal lebih praktis, kalau hilang itu bisa langsung dicetak untuk KTP digital,” ujarnya.
Namun, banyak juga masyarakat yang tidak memilih menggunakan KTP Digital dengan alasan telepon seluler tidak mendukung atau bahkan tidak memiliki telepon seluler
Sehingga, pembuatan KTP Digital ditengah masyarakat dirasa tidak begitu diperlukan terutama pada masyarakat yang usianya lebih dari 50 tahun dan tinggal di perkampungan.
“Mungkin sekian persennya ada yang tidak mempunyai handphone karena mereka merasa tidak begitu perlu. Apalagi yang tingga di perkampungan” ujarnya mengakhiri. (Nani)









