Populer

Baginda hanya Tuntut Relokasi Pekuburan, Camat Bunaken : Keluarga Baginda Tidak Punya Dokumen Jelas

- Advertisement -

Manado -Impresinews.com,- Camat Bunaken, Boyke Pandean angkat bicara soal kepemilikan lahan yang dilalui proyek Jembatan dan Oprit Boulevard II di Batusaiki, Kelurahan Molas, Kecamatan Bunaken, Manado. Menurut dia, keluarga Asnat Baginda tidak memiliki dokumen yang jelas atas lahan tersebut.

“Kami sudah meminta keluarga Asnat Baginda untuk menunjukkan bukti kepemilikan, tapi tidak selembar pun dokumen yang ditunjukkan. Jadi baik surat register kelurahan maupun sertifikat tidak ada,” ujar Boyke di Manado Kamis (25/11)

Pemerintah kemudian melakukan pendekatan persuasif dan menjelaskan status tanah. “Tanah itu bertuan. Pemiliknya adalah Ko Tek, pemilik Toko Olympic. Baginda Cs sebenarnya tahu soal itu. Orang tua mereka dahulu bekerja mengelola tanah yang sekarang menjadi persoalan,” tutur Boyke.

Soal masalah pembongkaran makam dan tulang belulang yang katanya adalah leluhur keluarga Baginda, ia meminta untuk mengkonfirmasi ke Dinas Perumahan Kawasan Permukiman dan Pertanahan Daerah (PKPPD) Provinsi Sulut dan Badan Pelaksana Jalan Nasional (BPJN) Wilayah XV Manado.

“Setahu saya sudah ada solusinya. Tapi untuk lebih jelas, coba tanya ke Dinas PKPPD Sulut dan BPJN Manado,” ujar Boyke.

Sekadar diketahui, pembangunan jembatan dan oprit Boulevard 2 ini merupakan proyek dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat melalui Badan Pelaksana Jalan Nasional Wilayah XV Manado pada Satuan Kerja Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah 1 Provinsi Sulawesi Utara.

Proyek ini dikerjakan PT Pacifik Nusa Indah dengan nilai kontrak Rp62.930.674.000. Sumber dananya dari APBN tahun anggaran 2021-2022.

Pembangunan Jembatan dan Oprit Boulevard II ini mendapat sokongan dari masyarakat setempat. “Kami senang karena akan ada jalan dari Boulevard II ke Molas.Akses ekonomi makin terbuka. Apalagi kami dapat kabar bahwa usai pekerjaan proyek tersebut pemerintah akan segera me mbangun Pasar Tematik. KIni sangat menguntungkan untuk berjualan,” ucap Grace salah satu warga.

Asnat Baginda mengaku tak mempermasalahkan, apalagi menghalangi pembangunan proyek jembatan dan oprit Boulevard II di Batusaiki, Kelurahan Molas, Kecamatan Bunaken, Manado. Dia dan keluaganya hanya menuntut relokasi pekuburan setelah makam dotunya dibongkar dan tulang belulang dikembalikan.

“Kiapa kubur bekeng rusak dan pencuri dia pe tulang? Itu kita pe dotu,” kata Baginda dalam dialek Manado kepada wartawan dan sejumlah LSM di Batusaiki, Karena kuburan sudah dibongkar, Baginda dan keluarganya meminta pertanggungjawaban.

“Simpel, kami ingin area pekuburan dilakukan penyempurnaan atau relokasi. Kemudian tulang belulang yang dicuri dikembalikan,” ujarnya.

Baginda dan keluarganya sudah melaporkan masalah ini ke Polresta Manado. Namun, ia tak habis pikir kasus dihentikan. “Polresta menganggap tak memenuhi unsur. Dua saksi yang kami ajukan dihilangkan,” katanya.

Baginda juga menemui bidang pengadaan lahan di BPJN, Robby Muaya dan Kepala Dinas Perumahan Kawasan Permukiman dan Pertanahan Daerah (PKPPD) Provinsi Sulut, Steve Keppel soal pekuburan yang dirusak tersebut. “Tapi keduanya menyebut tidak ada kuburan,” ucapnya.

Keterangan soal tidak adanya kuburan ini menurut Baginda janggal. “Kalau tidak ada, kenapa ada SK Gubernur tentang pembentukan panitia pemindahan lahan,” ungkapnya.

Baginda dan keluarganya merasa dijajah bangsa sendiri. Ia juga melihat aparat sudah melampui kewenangannya.

“Keluarga saya diintimidasi dan diusir. Sementara preman yang tidak berkompeten di lahan tersebut tidak diusir,” katanya.(David)

TINGGALKAN KOMENTAR

- Advertisement -

Baca Juga